Tags

, , ,

large

Once Upon a Winter Time

 

 

Sometimes love means letting go of someone you love

Harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena dia berhenti mencintai kamu tetapi dia mungkin akan lebih bahagia ketika kamu melepaskannya..

.

.

Malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Dimana butiran bening dari langit yang menangis itu seperti sedang berbisik pada seorang wanita yang hanya memandangnya dalam diam. Entah sudah berapa lama Allegra –wanita itu- menghabiskan waktunya duduk termenung di balkon kamarnya.

Alle, begitu biasa ia dipanggil, bisa merasakan angin yang membelai lembut kulitnya, menyisakan rasa dingin di ujung buku-buku jarinya. Sedang uap-uap transparan itu masih mengepul dari cangkir putih yang ada diatas meja kayu berpelitur cokelat tepat disisinya. Seperti ingin mengalihkan rasa dingin yang dirasakan tubuh kecil wanita itu yang hanya menggunakan piyama tipis putih miliknya.

Alle masih mencoba mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan hatinya. Sedikit demi sedikit dia mencoba mengulang beberapa kejadian didalam kepalanya yang kini seperti potongan-potongan puzzle tak tersusun.

Berantakan dan tak berbentuk.

Ataukah memang Allegra sendirilah yang sengaja menghancurkannya?

Tepat! Seketika itu juga Alle menemukan jawabannya.

Saat ketika dia berharap tidak lagi menemukan hatinya bertumpu pada satu orang. Ketika Allegra berharap hatinya tidak lagi menjadi milik pria itu. Ya, itulah yang Alle butuhkan saat ini.

Diputarnya logam yang melingkari jari kelingking kirinya. Logam itu adalah symbol pengikat antara dirinya dan pria itu. Allegra masih ingat saat sang pria akhirnya memberitahukan arti dari cincin sederhana yang bertahtakan berlian kecil itu beberapa bulan yang lalu.

“Aku tahu benda ini tidak akan pernah bisa menyimpulkan seberapa besar perasaanku padamu. Tapi logam kecil ini adalah tanda bahwa aku mengikat diriku padamu, mengikat hatiku padamu. Dengan gabungan inisial namaku dan inisial namamu, aku berharap kita akan terus bersama.”

Percaya adalah kata yang paling mendekati perasaan Allegra saat itu. Percaya bahwa pria dengan senyum paling indah itu akan menjadi miliknya suatu saat nanti. Percaya bahwa ada saat dimana Allegra akan berjalan menuju pelaminan, tempat dimana pria sempurna itu menunggunya untuk mengucapkan janji suci.

Tapi nampaknya kini Allegra harus bangun dari tidur panjangnya. Allegra harus kembali menapaki dunia nyatanya. Dunia dimana sosok itu tidak ada. Dunia dimana Allegra harus tetap hidup meskipun tidak ada lengan hangat itu lagi untuk menopangnya saat dia terjatuh.

Jadi, dengan sisa tenaga yang dimilikinya Allegra mencoba menghilangkan ikatan itu. Menghapuskan belenggu tidak terlihat yang dibuat pria itu untuknya. Dilepasnya logam putih yang melingkar cantik di jemarinya itu perlahan. Takut gesekannya akan melukai jarinya, bukan, sebenarnya Allegra takut itu akan melukai hatinya. Dia sendiri tidak begitu yakin apakah hal itu mungkin saat dia hampir sudah tidak bisa merasakan rasa perih itu lagi.

Terlalu perih hingga tidak lagi bisa dirasakan.

Karena saat cincin itu sudah terlepas sempurna dari jemarinya, semua mimpinya akan hilang tak berbekas. Semuanya, tanpa terkecuali. Tapi bukankah ini adalah keputusan yang sudah diambilnya? Tepat saat dia menemukan ‘hal’ yang disembunyikan sosok itu. Dan ada harga yang harus dibayar untuk semua keputusan yang sudah diambilnya, bukan?

Tidak! Aku tidak boleh menangis, gumam Allegra pada dirinya sendiri. Dan saat benda itu sudah tidak bersentuhan lagi dengan kulitnya, Allegra merasa ringan. Tidak ada lagi perasaan memiliki. Tidak ada lagi perasaan tersakiti. Karena Allegra sadar, Tuhan hanya menitipkan sosok itu padanya. Bukan menjadikan sosok itu miliknya.

Ketika hujan makin melebur dengan malam dan seiring desir angin yang makin menggigit kulit, akhirnya Allegra bisa melepas semuanya. Walaupun rasanya akan berbeda tanpa sosok yang menenangkannya itu, tapi Allegra yakin dia mampu bertahan.

Diletakkannya cincin itu tepat pada meja disebelahnya kemudian diambilnya cangkir putih itu. Rasa hangat tiba-tiba saja menjalari jari-jari Allegra. Disesapnya cairan hitam kental yang masih hangat itu perlahan.

“Pahit…” guman Allegra. Namun seperti tidak peduli dengan rasa pahit yang menyiksa indra perasanya, Allegra menengguk habis isinya. Ya, espresso ini akan menjadi espresso pertama dan terakhir untuknya.

Berharap apa yang dikatakan pria itu benar, bahwa diakhir tetes minuman itu akan ada rasa manis yang tertinggal. Seperti juga perasaan Allegra saat ini, hingga ketika semua kenangan itu memanggilnya kembali, Allegra berharap akan mampu memandangnya lekat dan tersenyum tanpa beban kemudian berkata “Hello, Dariel!”

.

.

.

Bintang masih bersinar terang dan bulan tengah menunjukan purnamanya ketika lelaki itu kembali mendesah berat. Berada ditengah sebuah dilema besar sungguh sangat menyiksanya. Jika saja dia dapat memutar waktu kembali, dia ingin sekali bertemu dengan pria itu jauh sebelum dia menjadi sosoknya yang sekarang.

Saat semua orang belum mengenalnya. Saat semua hiruk pikuk dunia tidak membelenggunya. Saat waktu bukanlah hal yang sulit untuk didapatkannya. Dan yang terpenting saat dia belum bertemu dengan masa lalunya.

Sekali lagi, jika saja dia bisa memutar balikan waktu, pria itu ingin agar sosok itu menjadi yang pertama dan terakhir untuknya. Tapi waktu berkata lain, Tuhan menuliskan pria yang tengah diam dibalkon asramanya ini bertemu ‘dia’ terlebih dulu.

Dariel kembali menatap langit malam itu. Allegra-nya pasti sedang berdiam diri saat ini. Selama hampir enam tahun mengenal Allegra, seharusnya Dariel tahu bahwa dia telah melakukan suatu kesalahan besar. Manusia mana yang rela jika kekasih mereka membagi hatinya dengan orang lain?

Dan detik ini juga Dariel merasa dia adalah seorang pria yang gagal. Gagal karena dia tidak bisa menjaga hati yang telah Allegra titipkan padanya. Gagal karena dia tidak juga bisa menjaga perasaannya sendiri untuk tidak kembali pada masa lalunya.

Tapi Dariel tidak bisa berbohong. Dia mencintai Allegra, sungguh sangat mencintainya. Tapi dia juga mencintai Auriel, wanita dari masa lalunya. Dariel yakin benar perasaan untuk Auriel masih tersimpan jauh dilubuk hatinya ketika mereka bertemu secara tidak sengaja di Sydney.

Namun bayang-bayang Allegra selalu datang mengingatkannya. Dariel tahu mungkin dia adalah laki-laki brengsek yang menginginkan keduanya berjalan secara berdampingan. Dia ingin Allegra untuk mendampinginya seumur hidup, tapi dia juga ingin Auriel untuk berjalan beriringan dengannya.

Apakah hal itu mungkin?

Tidak, Dariel tidak ingin menjadi pria tidak bertanggung jawab seperti itu. Dirabanya saku celana straight jeans-nya, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi diam tak bersuara. Ragu-ragu di tekannya nomor yang sudah dihafalnya diluar kepala.

Dua menit berlalu, namun Dariel tidak juga menekan tombol ‘call’ pada benda itu. Keberanian yang dia harapkan datang untuk menelpon Allegra-nya tidak juga terkumpul. Apakah bijaksana jika dia menelpon Allegra-nya sekarang? Saat perasaannya sendiri masih belum jelas?

“Aish, bagaimana ini?” gerutu Dariel pada dirinya sendiri, namun cukup jelas untuk didengar oleh Zen yang sedang membaca kamus bahasa Jepang tak jauh dari balkon tempat Dariel berdiri saat ini.

“Tanya lo aja, Riel, lo akan tahu jawabannya.”

Satu kata dari Zen itu membuat Dariel mengurungkan niatnya untuk menghubungi Allegra. Dariel butuh waktu untuk memutuskan. Allegra juga mungkin butuh waktu untuk sendiri. Detik itu juga, saat Dariel melihat bintang berekor bergeser dari tempatnya, dia berdoa pada Tuhan-nya.

Semoga keputusan yang diambilnya nanti adalah keputusan yang tepat. Mungkin akan menyakitkan salah satu pihak, mungkin juga akan menyakiti dirinya sendiri. Entahlah, untuk saat ini biar waktu yang menunjukan kuasanya.

Fin

 

 

Advertisements